Minggu, 23 Februari 2014

Nujuh Bulanan Disaster : A Blessing in Disguise


Jadi ceritanya karena si Lil Kicker udah 28 minggu, dan emaknya pengen narsis-narsisan dipoto di prosesi tradisi nujuh bulanan, diputuskanlah acara nujuh bulanan diselenggarakan tanggal 14 Februari. Acara tanggal 14 Februari malem pengajian, sementara acara tanggal 15 Februari acara adat. Maka berangkatlah gue tanggal 14 Februari dengan semangat ’45 ke bandara untuk naik penerbangan ke Semarang via Surabaya. Ga ada yang aneh sih sama hari itu, malem sebelumnya tidur cepet habis packing jadi ga sempet liat berita juga. Jadi kebayang dooonnkk.. Kagetnya gue waktu setengah jam menjelang landing di Surabaya tiba-tiba pesawat gue balik lagi ke Makassar gara-gara bandara ditutup. They said it was because of Gunung Kelud eruption.


Masih ngotot harus balik ke Semarang hari itu juga, nyampe di bandara Sultan Hassanuddin setelah ngerefund tiket yang flightnya dibatalin itu, gue akhirnya beli tiket baru ke Semarang, via Denpasar dengan harga tiket 3x lipat harga tiket awal gue. Jangan ditanya gimana dramanya gue pas ternyataaaa.. sampe di Bandara Ngurah Rai dan menunggu dengan harap-harap cemas, ada pengumuman bahwa flight ke Semarang dicancel karena Bandara Ahmad Yani ditutup. Who to blame deh kalo akhirnya gue nangis-nangis lebay di bandara. Udah dibelain pindah rute dengan harapan bisa nyampe Semarang ternyata endingnya mesti terlunta-lunta sendirian di bandara dengan perut buncit dan geretan sekoper besar.
 
That Canceled Flight Laknat Ticket T___T

Let’s just skip that drama part when I cried histerically at the airport (should really blame the hormones stream thou) dan bikin nyokap serta mas bojo ikut seteres. Gue akhirnya menghubungi sahabat gue, Dian, untuk minta dijemput. I was too tired to think straightly and I just needed to lay down my tired body and mind. Dan bersyukur abis, I have her there. Dian is my closest best friend and somehow it’s a miracle that the whole thing happen in the city she lives in, so I’m practically not alone.
 
Dian Lagi Nggeret Koper di Parkiran

Dian dateng 2 jam kemudian. Sebelum Dian dateng gue sempet konfirm ke pihak maskapai soal kepastian adanya penerbangan ke Semarang dari Bali supaya tiket yang gue pegang bisa direschedule. Sayangnya, pihak maskapai ga bisa kasih jawaban karena pihak Bandara Ahmad Yani juga ga bisa kasih kepastian sampai kapan bandara ditutup. Dalam kondisi stres dan laper berat dari bandara gue sama Dian akhirnya mampir dulu ke Restoran Bebek Tepi Sawah. FYI, Bebek Tepi Sawah ini termasuk salah satu tempat kuliner yang cukup terkenal di Bali. Gue pesen menu recommended di restoran ini, yaitu bebek crispy. Harganya mehong abisss (menurut gue) , 90k lebih untuk seporsi bebek crispy. Mau cancel pesenan kok tengsin juga :p Tapi setelah pesanan dateng ke meja, gue tau kenapa ini bebek bisa mehong banget. Gue ngakak liat porsinya, ya dikata gue kuntilanak makan bebek setengah ekor sendirian?! Penampakannya kira-kira begini nih..

Bebek Porsi Kunti :D


Dari tempat bebek akhirnya gue dan Dian boncengan ke kosan Dian di Nusa Dua. Ya pegel juga ya bok ternyata. Dan malem itu acara pengajian nujuh bulanan gue tetep diselenggarakan di rumah tanpa kehadiran gue dan mas suami. Btw mas suami juga gagal balik karena flight dari Balikpapan juga dicancel due to penutupan Bandara Ahamad Yani akibat erupsi Gunung Kelud. Cuman gue dan mas suami masih berharap hari Sabtunya (tanggal 15 Februari) kami bisa tetep pulang untuk acara adat dan siraman. Sayangnya keesokan harinya setelah nanya-nanya ke seorang temen yang kerja di Angkasa Pura Denpasar, gue dapet kabar bahwa seluruh flight ke Semarang hari itu masih dicancel. Drama dimulai lagi. Ya gimana, kasian banget sama orang rumah dan sodara-sodara yang udah dateng. Dekor untuk siraman dan segala macemnya udah siap padahal. Untuk balik ke Makassar juga ga bisa karena seluruh flight ke Semarang full sampai hari Senin. Mau ga mau akhirnya gue harus stay di Bali sampai hari Senin.


Frankly, walaupun diawali drama gue, bersyukur bisa stay di bali. Selama di Bali gue jadi berpikir, mungkin ini cara Tuhan memberi apa yang udah jadi harapan gue selama ini. Karena dari awal hamil gue emang udah ngidam banget babymoon di Bali sebelum Lil Kicker lahir. Mungkin ini anak lebih suka ditujuh-bulanin dengan jalan-jalan dibanding acara tradisi. So there were we. Bali. Gue menghabiskan 4 hari yang menyenangkan di Bali. Gue makan ikan bakar ala Jimbaran yang super enak, nyobain roti canai, maen ke Pantai Pandawa dan liat water blow di BDTC.  Not really bad for such an unplanned vacation, eh?
 
Ikan Bakar ala Jimbaran


Me and Lil Kicker Mejeng di Patung yang Ada di Pantai Pandawa

Hikmahnya sih, gue jadi memahami banget kata-kata “Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan”. Serius, selama ini gue sering terlalu ngoyo mengusahakan segala sesuatu dalam hidup gue dan seringkali gue menafikan bahwa no matter how big my desire is, there is a superpower out there who takes control of everything. Kedua, gue jadi mengerti, bukan hanya keluarga yang bisa kita sebut rumah, tempat untuk pulang. A true best friend, is also the comfort home we can go home to. And as for me, I have this another home in Bali. It’s you, my best friend Dee. Thank you, for being there for me  :*
 
Me and My Besty :)

Oh, dan btw, pulang dari Bali nyeri panggul yang kemarin-kemarin sempet menghantui gue, gone! Welcome, third trimester! Be nice to me ya :D



Makassar 18 Februari 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar