Pagi-pagi tanggal 26 Mei 2014 kemarin dapet telpon dari MEP UGM yang mengabarkan kalo gue diterima masuk untuk melanjutkan master di situ. Langsung seneng banget karena udah dari minggu lalunya gue harap-harap cemas nunggu pengumuman aplikasi beasiswa Bappenas gue. Belum ada pengumuman resmi dari Bappenas sebagai pihak yang memberikan beasiswa, but show must go on, karena pihak kampus melampirkan persyaratan yang harus dilengkapi untuk keperluan daftar ulang. Dan pengumuman resmi yang gue tunggu baru tiba tanggal 3 Juni 2014 lewat email dan sms.
Gratitude.
That's what I actually feel right now. Kembali ke sekitar 6 bulan yang lalu, saat gue sedikit nyesek karena nama gue ga ada di pemanggilan peserta tes gelombang pertama Bappenas. Gue masih hamil 4 bulanan. Gue berpikir, ampun deh, masak iya seleksi administrasi aja nggak lolos. But then Alloh turned my world upside down waktu tiba-tiba gue dipanggil tes gelombang kedua di Bulan Maret 2014, padahal gue nggak mengirimkan aplikasi lagi karena berpikir mau concern dengan kehamilan gue waktu itu. And everything just seems so fast and plainly smooth. Dari proses dipanggil tes TPA, tes TOEFL, sampai akhirnya gue menerima email dan list yang nama gue terpampang di sana. Dengan nilai yang nggak malu-maluin, if I may add. Hihihi, narsis dikit :) Meskipun akhirnya gue harus puas diterima di pilihan ketiga gue karena pilihan pertama dan kedua gue, yang merupakan program sandwich setahun di dalam dan setahun di luar negeri, ga tersedia di tahun ini. Which, andaikan gue memaksa untuk ambil program tersebut gue harus nunggu tahun depan, itupun kalo ada.
Sebenernya sih gue ga bisa dibilang orang yang suka banget sekolah, mengingat masa-masa kuliah S1 gue lebih banyak diisi sama kulineran sekitaran Bogor, nonton dvd bajakan tiap hari, atau bahkan tidur-tidur unyu di kosan kalo lagi ga mood kuliah. But going to school again, for free? Dibayar pula? Bisa deket sama orangtua pula? Like, seriously? Mau banget laahh pastinya..
Dan sekali lagi, gue diingatkan untuk percaya, bahwa rencana Tuhan itu yang paling indah, bahwa Alloh tuh ternyata paling tau kapan waktu yang tepat untuk kita. Gue mendadak dipanggil untuk aplikasi yang sebelumnya udah ditolak adalah cara Alloh mempersiapkan diri gue untuk waktu yang tepat. Gue dipanggil tes setelah bisa beradaptasi banget sama kehamilan dan menjelang melahirkan dalam keadaan udah cuti, jadi persiapan gue bisa lebih fokus dan matang.
Moral story yang gue dapat, dalam hidup kita harus selalu punya impian. Tahun 2010, waktu baru lulus kuliah, gue pernah nulis target-target yang harus gue capai dalam hidup. Salah satunya adalah sekolah lagi di luar negeri, 3 tahun setelah bekerja. Well, tahun ini tepat 3 tahun gue bekerja, dan meskipun gue melanjutkan sekolah di dalam negeri, at least gue diterima di one of the best university in this country. Gue jadi inget pernah baca tulisan kayak gini entah dimana : Put your dreams in the highest star, if you fall, moon is not a bad place to land. Yang kurang lebih gue maknai dengan taroh cita-cita setinggi-tingginya, karena kalaupun kita ga berhasil, we'll end up in somewhat better place compare to a place we'll belong if we don't have any star to put our dreams on.
Last moral story, gue belajar, bahwa menjadi Ibu, menjadi istri, kadang mengharuskan kita untuk mengkompromikan mimpi-mimpi yang pernah kita punya saat sebelum menyandang status-status itu. Seperti yang gue jalani kemarin, gue memilih hunting beasiswa dalam negeri (or at least, sandwich), instead of menjalani mimpi gue dulu untuk bisa kuliah di luar negeri, karena gue ingin bisa fokus mengasuh Dinda. Karena menikah dan punya anak adalah pilihan gue. Pilihan yang akhirnya mengharuskan gue untuk siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk mengkompromikan target dan impian. Do I feel sorry? Nope. Being a wife, and being a mother, specifically, maybe one of the best thing ever happen to me. So, I just do what it takes to be a good mother for my little one. If it's including compromising my dreams, so be it. Dan gue jelas harus bersyukur untuk apa yang Alloh berikan dalam hidup gue. Great family, loving and supporting husband, good job, sincere friends, pretty little daughter, and now THIS? Really couldn't ask for more. My life's perfectly complete! Thanks to YOU, Good Lord, My Alloh :)
Dan sekali lagi, gue diingatkan untuk percaya, bahwa rencana Tuhan itu yang paling indah, bahwa Alloh tuh ternyata paling tau kapan waktu yang tepat untuk kita. Gue mendadak dipanggil untuk aplikasi yang sebelumnya udah ditolak adalah cara Alloh mempersiapkan diri gue untuk waktu yang tepat. Gue dipanggil tes setelah bisa beradaptasi banget sama kehamilan dan menjelang melahirkan dalam keadaan udah cuti, jadi persiapan gue bisa lebih fokus dan matang.
Moral story yang gue dapat, dalam hidup kita harus selalu punya impian. Tahun 2010, waktu baru lulus kuliah, gue pernah nulis target-target yang harus gue capai dalam hidup. Salah satunya adalah sekolah lagi di luar negeri, 3 tahun setelah bekerja. Well, tahun ini tepat 3 tahun gue bekerja, dan meskipun gue melanjutkan sekolah di dalam negeri, at least gue diterima di one of the best university in this country. Gue jadi inget pernah baca tulisan kayak gini entah dimana : Put your dreams in the highest star, if you fall, moon is not a bad place to land. Yang kurang lebih gue maknai dengan taroh cita-cita setinggi-tingginya, karena kalaupun kita ga berhasil, we'll end up in somewhat better place compare to a place we'll belong if we don't have any star to put our dreams on.
Last moral story, gue belajar, bahwa menjadi Ibu, menjadi istri, kadang mengharuskan kita untuk mengkompromikan mimpi-mimpi yang pernah kita punya saat sebelum menyandang status-status itu. Seperti yang gue jalani kemarin, gue memilih hunting beasiswa dalam negeri (or at least, sandwich), instead of menjalani mimpi gue dulu untuk bisa kuliah di luar negeri, karena gue ingin bisa fokus mengasuh Dinda. Karena menikah dan punya anak adalah pilihan gue. Pilihan yang akhirnya mengharuskan gue untuk siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk mengkompromikan target dan impian. Do I feel sorry? Nope. Being a wife, and being a mother, specifically, maybe one of the best thing ever happen to me. So, I just do what it takes to be a good mother for my little one. If it's including compromising my dreams, so be it. Dan gue jelas harus bersyukur untuk apa yang Alloh berikan dalam hidup gue. Great family, loving and supporting husband, good job, sincere friends, pretty little daughter, and now THIS? Really couldn't ask for more. My life's perfectly complete! Thanks to YOU, Good Lord, My Alloh :)





